Arsip Blog

Laboratorium rahasia Google terkuak


VIVAnews – Google dikabarkan menyimpan sebuah Read the rest of this entry

Iklan

The Black Hole Part 2


Mereka berlima bergegas menuju suatu ruangan di pesawat itu yang mereka rasa aman. Guncangan itu semakin lama semakin keras, & pada akhirnya menghilang.

“Apakah kita masih hidup?” tanya Furqan pada ke empat temannya. “Sepertinya demikian, jawab Ardhy. Kemudian dua dari mereka ke ruang kendali dan tiga orang lainnya memeriksa kondisi pesawat. “apakah ada kerusakan?” tanya Luqman, “tidak,” jawab ardhy, “Sepertinya pesawat ini memang sudah dirancang oleh proffesor supaya tahan terhadap lubang hitam sekalipun” kata Furqan. “wah itu sangat hebat” kata Luqman.

Setelah memeriksa kondisi pesawat, Luqman, Furqan, & Ardhy kembali ke ruang kendali. “Lihat, planet ini mirip seperti bumi ya,” kata Thufail.
“iya, benar. Planet ini juga nampaknya memiliki dataran hijau dan laut seperti bumi, tapi ini planet apa ya? Apakah ini masih di sekitar tata surya?” tanya Luqman.
“Benar juga, mungkin lubang hitam tadi membawa kita ke tempat ini, dan sekarang kita sedang berada di suatu galaksi di luar galaksi bimasakti.” jawab Thufail. “benarkah?” tanya ke empat temannya serempak.
“Ya… mungkin saja” jawab Thufail singkat.

Kemudian mereka mendaratkan pesawat mereka di salah satu daratan yang ada di planet yang sangat mirip dengan bumi itu, karena mereka sangat penasaran dengan planet yang mirip bumi itu.

Sebelum turun dari pesawat mereka beristirahat sejenak dan makan malam.

“sepertinya planet ini juga memiliki oksigen yang cukup untuk makhluk hidup, mungkin di sini juga ada kehidupan ” kata Ardhy sambil menunjuk alat pengukur kadar oksigen yg di bawanya.

“jadi kita tidak perlu menggunakan pakain luar angkasa” kata Luqman.

Kemudian mereka berjalan di daratan sekitar tempat mereka mendarat.

“Aku jadi semakin yakin, di planet ini pasti ada kehidupan karena oksigen, tekanan udara, suhu, dan gravitasi di sini mirip sekali dengan bumi,” kata Thufail.

The Black Hole Part I


“Lima, Empat, Tiga, Dua, Satu”. Terdengar hitungan mundur dalam peluncuran suatu pesawat luar angkasa. Suara pesawat itu kemudian menggema di sekitar tempat peluncurannya. Suara itu semakin lama semakin pelan, & terlihat pesawat itu semakin menjauh dari bumi.

Pesawat luar angkasa itu ditumpangi oleh 5 orang awak yg berusia masih cukup muda, sekitar 17 tahun. Tujuan mereka adalah melakukan ekspedisi menjelajahi tata surya.

“Akhirnya impian kita untuk menjelajahi sekaligus mengamati tata surya bisa tercapai”. Terdengar pembicaraan salah seorang dari mereka yang bernama Thufail. Ia bertugas sebagai pengendali kapal itu. “Ia, itu berkat pesawat luar angkasa buatan profesor ini” jawab seorang awak lainnya yang bernama Fathir. Dia bertugas sebagai fotografer benda2 angkasa.

Di rungan lain dari pesawat itu terdengar percakapan antara ketiga awak lainnya “Hei, kira2 persediaan air, oksigen, & makanan cukup buat kita berlima selama menjelajahi tata surya tidak?” tanya Luqman yang bertugas sebagai pengecek seluruh peralatan & kebutuhan2 mereka selama di pesawat tersebut. “Tenang saja, kan profesor sudah membuatkan ruangan khusus tumbuhan di dalam pesawat ini, di sana aku sudah menanami berbagai macam tumbuhan dengan bibit unggul, jadi tumbuhan itu dapat berguna untuk bahan makanan dan juga penghasil oksigen.” jawab Ardhy, ia bertugas sebagai penyedia makanan. “Lalu bagaimana dengan persediaan air?” Luqman bertanya kembali. “Jangan khawatir, di pesawat ini ada satu lagi alat canggih buatan profesor. Alat itu bisa menyedot oksigen dan hidrogen yang ada di dalam dan di luar pesawat ini, kemudian oksigen dan hidrogen itu direaksikan menjadi H20 (air), lagi pula alat itu bisa mendaur ulang air.” jawab Furqan yang bertugas sebagai penyedia air. “memangnya air hasil daur ulang itu tidak kotor?”. tanya Luqman. “tentu saja tidak, karena air bekas yang sudah kita pakai hanya partikel2 hidrogen & oksigen saja yang di sedot oleh alat itu, sedangkan zat2 lainnya di buang di saluran khusus secara otomatis.” jawab Furqan. “wah, benar2 hebat alat buatan profesor.”

Setelah itu mereka melakukan kontak dengan profesor. “Hai anak2 (begitulah panggilan profesor pada kelima awak yang merupakan anak asuhnya) di mana posisi kalian saat ini?” tanya profesor. “saat ini kita baru memasuki orbit bulan Proff”, jawab Thufail. “Oh,, ternyata pesawat buatanku itu cepat juga ya,” kata proffesor. “prof ada satu hal yang kami khawatirkan, apakah bahan bakar pesawat luar angkasa ini tidak akan habis?” tanya Luqman. “hal itu tdk usah kalian cemaskan, karena pesawat buatanku ini dapat mengubah energi dan partikel apa saja yg ada di sekelilingnya menjadi bahan bakar”. Jawab proffesor.
“wah, luar biasa”, kata kelima awak hampir bersamaan.
“Anak2, sekarang di bumi sudah menunjukkan pukul 03.25 sore, jadi sudah saatnya untuk shalat ashar”. Kata proffesor
“oh, iya. Kita harus shalat ashar dulu” jawab Thufail.

Kemudian mereka memutuskan koneksi alat komunikasi mereka dengan proffesor tsb,
“Thufail, kamu yg jadi imam ya!” tunjuk ke empat temannya pada Thufail. “Baiklah” jawabnya.

Setelah shalat mereka bergegas menuju ruang kendali. Mereka melihat di monitor nampak planet mars semakin jelas.
“Fathir, kamu potret planet mars itu, & jangan lupa gunakan zoom untuk memperjelas permukaan planet itu.” Perintah Thufail kepada Fathir. “OK” jawab Fathir.
Segera fathir mengambil gambar dari objek pertama yakni planet mars. “eh, lihat itu ada bulannya planet mars, namanya phobos kan. Aku akan potret bulan ini juga ah!”

Setelah itu pesawat mereka menjauh dari orbit planet mars. “Hei hati2 di sekitar sini ada banyak asteroid, jangan sampai tertabrak ya.” kata fathir, “baiklah, lagian pesawat ini kan sudah dilengkapi sensor khusus agar tidak menabrak benda2 angkasa” jawab thufail. “wah banyak sekali asteroid ini, aku akan memotretnya dulu ah” kata Fathir.

“sekarang di bumi sudah pukul 06.00, ayo kita sholat maghrib dulu” kata Ardhy. Kemudian mereka sholat maghrib berjama’ah & usai sholat mereka kembali ke ruang kendali.

“semuanya, lihat…! Kenapa di sekitar sini tiba2 menjadi gelap sekali ya? Tidak terlihat bintang atau benda langit satupun, bukankah seharusnya kita sudah berada di orbit Jupiter?” kata Luqman dgn nada panik.

“jangan2 ini black hole (lubang hitam), karena itu di sekitar sini sangat gelap” kata Furqan. “mungkin kamu benar”, jawab Luqman.

“Thufail, segera menghindar dari area gelap ini sebelum kapal ini terhisap ke dalam lubang hitam”, kata Fathir.

“Percuma saja, pesawat ini sudah tidak bisa melawan gravitasi lubang hitam yang sangat kuat ini” jawab thufail sambil berusaha menggerakkan pesawat keluar dari area gelap.

Tapi upaya Thufail gagal, tiba2 mereka merasakan guncangan keras pada pesawat tsb dan…….
To Be Continued. . .
(Bersambung ke The Black Hole Part II) 🙂

%d blogger menyukai ini: