Renungan malam 3


Pada sebuah sekolah, seorang
guru mengajarkan sesuatu pada
murid-muridnya. Beliau
meminta agar para murid
membawa sebuah kantong
plastik besar dan mengisinya
dengan kentang. Kentang-
kentang itu mewakili setiap
orang yang pernah menyakiti
hati mereka dan belum
dimaafkan. Setiap kentang yang
dibawa, dituliskan sebuah nama
orang yang pernah menyakiti
hati murid-murid itu.
Beberapa murid memasukkan
sedikit kentang, sebagian
membawa cukup banyak. Para
murid harus membawa kentang
dalam kantong itu kemanapun
mereka pergi. Menemani mereka
belajar, dibawa pulang, dibawa
lagi ke sekolah, diletakkan di
samping bantal mereka saat
tidur, pokoknya, kentang dalam
kantong itu tidak boleh jauh dari
mereka.
Makin hari, makin banyak murid
yang mengernyitkan hidung
karena kentang-kentang itu
mulai mengeluarkan aroma
busuk.
“Apakah kalian telah memaafkan
nama-nama yang kalian tulis
pada kulit kentang itu?” tanya
sang guru.
Para murid tampaknya sepakat
untuk belum bisa memaafkan
nama-nama yang telah
memaafkan mereka.
“Jika demikian, kalian tetap harus
membawa kentang itu
kemanapun kalian pergi,”
Hari demi hari berlalu. Bau
busuk yang dikeluarkan kentang-
kentang itu semakin membusuk.
Banyak dari mereka yang
akhirnya menjadi mual, pusing
dan tidak nafsu makan
karenanya. Akhirnya, mereka
membuang kentang-kentang itu
ke dalam tempat sampah.
Dengan asumsi mereka juga
memaafkan nama-nama yang
mereka tulis di atas kulit kentang.
“Nah, para murid, dendam yang
kalian tanam sama seperti
kentang-kentang itu. Semakin
banyak kalian mendendam,
semakin berat kalian melangkah.
Semakin hari, dendam-dendam
itu akan membusuk dan
meracuni pikiran kalian,” ujar
sang guru sambil tersenyum.
Para murid hanya terdiam,
meresapi setiap perkataan guru
mereka.
“Karena itu, sekalipun kalian
menyimpan dendam pada
orang lain, atau mereka pernah
menyakiti hati kalian, maafkanlah
mereka dan lupakan yang
pernah mereka lakukan, jadikan
hal itu sebagai pembelajaran
dalam hidup kalian. Dendam
sama seperti kentang-kentang
busuk itu, kalian bisa
membuangnya ke tempat
sampah,”
Para murid tersenyum. Sejak hari
itu, mereka belajar untuk
menjadi manusia yang pemaaf
dan tidak mudah menyimpan
dendam. Hidup mereka tenang
tanpa terbebani bau busuk yang
akan merusak pikiran dan tubuh.
Ladies, kisah ini menjadi inspirasi
bagi kita semua untuk menjadi
manusia yang pemaaf. Sekalipun
dendam tidak kita rasakan
beratnya secara fisik, tetapi
secara mental akan melemahkan
langkah Anda, membuat hidup
Anda tidak nyaman. Maafkanlah
mereka yang pernah menyakiti
Anda dan hirup udara segar
kebebasan.

sumber: astarikristianti.wordpress.com/2011/04/12/kentang-busuk/

Lintas beritakan

baca juga


Posted by:
signature

About dhahnd371

I'm an Introvert boy. I like Science and Science fiction, I also like photography, blogging, gadget and many others.

Posted on 25 Mei 2011, in inspirasi, Renungan and tagged . Bookmark the permalink. 15 Komentar.

  1. Pertamaxxx ga ya? Wehhh mantap, Nitip boleh ya http://chufi94.wordpress.com/2011/05/25/carbon-blue-by-ind190-ubah-tampilan-hape-seperti-bb/ mudah-mudahan habis baca renungan bisa mimpibasah wkwkwkwk😀

  2. wew. bagus banget tulisanmu gan😉

    kunjung balik ya ?:mrgreen: jangan lupa lho !

  3. Woah saya setuju….
    Kentang itu memang berat kalo dibawa-bawa. Apalagi sampe dibawa tidur segala. hehehe

  4. ilmu bertambah nih..trkdng susah bngt mmfkn..hee

  5. Citra W. Hapsari

    kalo sampe saya yg bawa kentang itu,..hmm nisacaya ludes seketika😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: