Renungan malam 2


Pada suatu hari, seorang anak
mengeluh mengenai sulitnya
hidup kepada sang ayah. Bagi
sang anak, hidup dirasa sangat
berat dan dia hampir putus asa
menghadapi hidup yang
demikian. Si anak rasanya telah
lelah sehingga di menumpahkan
seluruh ganjalan hatinya kepada
sang ayah. Dia mengatakan,
masalah satu belum selesai,
timbul masalah yang lain.
Sang ayah yang mendengar
cerita tersebut hanya tersenyum,
pria tua itu adalah seorang
mantan koki. Setelah mendengar
cerita anaknya yang berkeluh
kesah mengenai kehidupan yang
sangat sulit, dia mengajak
anaknya untuk ke dapur. Di
dapur, sang ayah merebus air
dalam tiga panci yang berbeda.
Panci pertama diisi dengan irisan
wortel. Panci kedua diisi sebutir
telur mentah, dan panci terakhir
diisi dengan beberapa butir biji
kopi.
Si anak hanya terdiam
menyaksikan ayahnya merebus
benda-benda itu. Dia tidak
berkomentar dan menunggu
apa yangakan dilakukan sang
ayah selanjutnya. Sang ayah juga
tidak mengatakan apapun, dia
menunggu hingga 20 menit,
hingga wortel dan menjadi
matang. Kopi yang direbus juga
telah menebar wangi ke seluruh
penjuru dapur, kemudian sang
ayah mematikan api kompor.
Wortel rebus dan telur rebus
telah diangkat dan diletakkan di
atas sebuah piring, sedangkan
kopi yang harum itu dituang ke
dalam sebuah gelas.
“Apa-apaan ini, ayah?” tanya
sang anak karena tidak mengerti.
Sang ayah tersenyum lalu
menjelaskan apa yang ingin dia
sampaikan kepada sang anak.
Ketiga benda itu, wortel, telur,
dan kopi mengalami perubahan
setelah dipanaskan, ketiganya
mengalami tekanan yang sama,
tetapi menjadi berbeda
setelahnya.
Wortel, dia adalah sesuatu yang
keras sebelum direbus, tetapi
menjadi lunak setelahnya. Telur,
sebelum direbus dia adalah
benda cair yang fleksibel, tetapi
setelah dipanaskan justru
menjadi keras dan kaku. Biji kopi,
dia tidak mengalami perubahan,
tetapi air rebusan yang tadinya
jernih menjadi hitam, dengan
aroma dan rasa yang sama
seperti biji kopi.
“Jadi, kau termasuk yang mana?”
tanya sang ayah pada anaknya.
“Apakah kau wortel yang keras,
tetapi setelah mengalami
kesulitan justru menjadi lunak
dan mudah menyerah? Atau kau
telur, yang fleksibel dan lembut
tetapi setelah mengalami
kesulitan justru menjadi sosok
yang kaku dan keras sekalipun
tampak sama di luar?”
Sang anak diam sambil terus
mendengar kalimat ayahnya.
“Biji kopi adalah yang paling unik
di antara ketiganya. Dia tidak
berubah, tetapi mampu
menularkan isinya kepada
seluruh air yang direbus,
sehingga memiliki rasa dan
keharuman yang sama. Semakin
dia dipanaskan, maka aroma
dan rasa yang dia tularkan
semakin nikmat dan menggugah
selera.”
Sahabat, biji kopi mengajarkan
kita bahwa semakin kuat tekanan
kehidupan yang datang,
seharusnya kita tetap bisa
membuat perubahan di sekitar
kita menjadi sesuatu yang baik
tanpa mengubah atau
mengurangi kebaikan yang ada
di dalam diri kita.
Mana di antara ketiga benda itu
yang menggambarkan diri
Anda?

sumber: astarikristianti.wordpress.com/2011/05/04/siapakah-anda-wortel-telur-atau-kopi

baca juga

Posted by:
signature

Lintas beritakan

About dhahnd371

I'm an Introvert boy. I like Science and Science fiction, I also like photography, blogging, gadget and many others.

Posted on 25 Mei 2011, in inspirasi, Renungan and tagged . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: