Unsur Cerpen


Berikut penjelasan mengenai
unsur intrinsik.
1. Tokoh dan Karakter Tokoh
Istilah tokoh menunjuk pada
orangnya, pelaku cerita,
sedangkan watak, perwatakan,
atau karakter menunjuk pada
sifat dan sikap para tokoh yang
menggambarkan kualitas pribadi
seorang tokoh. Tokoh cerita
menempati posisi strategis
sebagai pembawa dan
penyampai pesan, amanat, atau
sesuatu yang sengaja ingin
disampaikan kepada pembaca.
Secara umum kita mengenal
tokoh protagonis dan antagonis.
Tokoh protagonis adalah tokoh
yang kita kagumi, tokoh yang
merupakan pengejawantahan
norma-norma, nilai-nilai yang
ideal bagi kita. Tokoh protagonis
menampilkan sesuatu yang
sesuai dengan pandangan dan
harapan pembaca. Adapun
tokoh antagonis adalah tokoh
yang menyebabkan terjadinya
konflik. Tokoh antagonis
merupakan penentang tokoh
protagonis.
Ada beberapa cara
penggambaran karakter tokoh
dalam cerpen, di antaranya
sebagai berikut.
 Melalui apa yang diperbuat
tokoh. Hal ini berkaitan dengan
bagaimana sang tokoh bersikap
dalam situasi ketika tokoh harus
mengambil keputusan.
Contoh:
Dengan terburu-buru Wei
meninggalkan kota, dan
peristiwa itu tak lama kemudian
sudah terlupakan. Ia lantas pergi
ke barat, ke ibu kota, dan karena
dikecewakan oleh pinangan
terakhir yang gagal itu, ia
mengesampingkan pikirannya
dari hal perkawinan. Tiga tahun
kemudian, ia berhasil meminang
seorang gadis dari keluarga Tan
yang terkenal kebaikannya di
dalam masyarakat.
Sumber: Cerpen “Sekar dan
Gadisnya”, Ryke L.
 Melalui ucapan-ucapan tokoh.
Dari apa yang diucapkan tokoh
kita dapat mengetahui
karakternya.
Contoh:
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Buku kumpulan cerpen Malaikat
Tak Datang Malam Hari karya
Joni Ariadinata.
“Apa yang tidak Ibu berikan
padamu? Ibu bekerja keras
supaya bisa menyekolahkanmu.
Kau tak punya kewajiban apa-
apa selain sekolah dan belajar.
Ibu juga tak pernah melarangmu
melakukan apa saja yang
kau sukai. Tapi, mestinya kamu
ingat bahwa kewajiban
utamamu adalah belajar. Hargai
sedikit jerih payah Ibu!” Di luar
dugaannya anak itu
menatapnya dengan berani. “Ibu
tak perlu susah payah
menghidupi aku kalau Ibu
keberatan. Aku bisa saja
berhenti sekolah dan tidak usah
menjadi tanggungan Ibu lagi.”
Darah Sekar –ibu anak itu–serasa
naik ke ubun-ubun.
Sumber: Cerpen “Sekar dan
Gadisnya”, Ryke L.
 Melalui penjelasan langsung.
Dalam hal ini penulis
menggambarkan secara
langsung karakter tokoh.
Contoh:
Memang, sebenarnya, semenjak
dia datang, kami sudah
membenci dia. Kami membenci
bukan karena kami adalah
orang-orang yang tidak baik,
tapi karena dia selalu
menciptakan suasana tidak enak.
Perilaku dia sangat kejam. Dalam
berburu dia tidak sekadar
berusaha untuk membunuh,
namun menyiksa sebelum
akhirnya membunuh. Maka, telah
begitu banyak binatang
menderita berkepanjangan,
sebelum akhirnya dia habiskan
dengan kejam. Cara dia makan
juga benar-benar rakus. Bukan
hanya itu. Dia juga suka mabuk-
mabukan. Apabila dia sudah
mabuk, maka dia menciptakan
suasana yang benar-benar
meresahkan dan memalukan. Dia
sering meneriakkan kata-kata
kotor, cabul, dan menjijikkan.
Sumber: Cerpen “Derabat”, Budi
Darma
2. Latar (Setting)
Latar dalam sebuah cerita
menunjuk pada pengertian
tempat, hubungan waktu, dan
lingkungan sosial tempat
terjadinya peristiwaperistiwa
yang diceritakan. Latar
memberikan pijakan cerita
secara konkret dan jelas. Hal ini
penting untuk memberikan
kesan realistis kepada pembaca,
menciptakan suasana tertentu
yang seolah-olah sungguh-
sungguh ada dan terjadi. Unsur
latar dapat dibedakan ke dalam
tiga unsur pokok, yaitu sebagai
berikut.
a. Latar Tempat
Latar tempat merujuk pada
lokasi terjadinya peristiwa.
Unsur tempat yang
dipergunakan mungkin berupa
tempat-tempat dengan nama
tertentu.
b. Latar Waktu
Latar waktu berhubungan
dengan “kapan” terjadinya
peristiwaperistiwa yang
diceritakan.
c. Latar Sosial
Latar sosial merujuk pada hal-hal
yang berhubungan dengan
perilaku kehidupan dosial
masyarakat di suatu tempat
yang diceritakan dalam karya
fiksi. Latar sosial dapat berupa
kebiasaan hidup, istiadat, tradisi,
keyakinan, pandangan hidup,
cara berpikir dan bersikap, serta
hal-hal lainnya.
3. Alur (Plot)
Alur adalah urutan peristiwa
yang berdasarkan hukum sebab
akibat. Alur tidak hanya
mengemukakan apa yang
terjadi, akan tetapi menjelaskan
mengapa hal ini terjadi.
Kehadiran alur dapat membuat
cerita berkesinambungan. Oleh
karena itu, alur biasa disebut
juga susunan cerita atau jalan
cerita. Ada dua cara yang dapat
digunakan dalam menyusun
bagianbagian cerita, yakni
sebagai berikut. Pengarang
menyusun peristiwa-peristiwa
secara berurutan mulai dari
perkenalan sampai penyelesaian.
Susunan yang demikian disebut
alur maju. Urutan peristiwa
tersebut meliputi:
– mulai melukiskan keadaan
(situation);
– peristiwa-peristiwa mulai
bergerak (generating
circumtanses);
– keadaan mulai memuncak
(rising action);
– mencapai titik puncak (klimaks)
– pemecahan masalah/
penyelesaian (denouement)
Pengarang menyusun peristiwa
secara tidak berurutan.
Pengarang dapat memulainya
dari peristiwa terakhir atau
peristiwa yang ada di tengah,
kemudian menengok kembali
pada peristiwaperistiwa yang
mendahuluinya. Susunan yang
demikian disebut alur sorot balik
(flashback). Selain itu, ada juga
istilah alur erat dan alur longgar.
Alur erat adalah jalinan peristiwa
yang sangat padu sehingga
apabila salah satu peristiwa
ditiadakan maka dapat
mengganggu keutuhan cerita.
Adapun alur longgar adalah
jalinan peristiwa yang tidak
begitu padu sehingga apabila
salah satu peristiwa ditiadakan
tidak akan mengganggu jalan
cerita.
4. Sudut Pandang (Point of
View)
Sudut pandang adalah visi
pengarang dalam memandang
suatu peristiwa dalam cerita.
Untuk mengetahui sudut
pandang, kita dapat mengajukan
pertanyaan siapakah yang
menceritakan kisah tersebut?
Ada beberapa macam sudut
pandang, di antaranya sudut
pandang orang pertama (gaya
bercerita dengan sudut pandang
“aku”), sudut pandang peninjau
(orang ketiga), dan sudut
pandang campuran.
5. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas
penyusunan dan penyampaian
dalam bentuk tulisan dan lisan.
Ruang lingkup dalam tulisan
meliputi penggunaan kalimat,
pemilihan diksi, penggunaan
majas,dan penghematan kata.
Jadi, gaya merupakan seni
pengungkapan seorang
pengarang terhadap karyanya.
6. Tema
Tema adalah persoalan pokok
sebuah cerita. Tema disebut juga
ide cerita. Tema dapat berwujud
pengamatan pengarang
terhadap berbagai peristiwa
dalam kehidupan ini. Kita dapat
memahami tema sebuah cerita
jika sudah membaca cerita
tersebut secara keseluruhan.
7. Amanat
Melalui amanat, pengarang dapat
menyampaikan sesuatu, baik hal
yang bersifat positif maupun
negatif. Dengan kata lain,
amanat adalah pesan yang ingin
disampaikan pengarang berupa
pemecahan atau jalan keluar
terhadap persoalan yang ada
dalam cerita. Adapun unsur
ekstrinsik adalah unsur-unsur
yang berada di luar karya sastra,
tetapi secara tidak langsung
mempengaruhi bangun cerita
sebuah karya. Yang termasuk
unsur ekstrinsik karya sastra
antara lain sebagai berikut.
1. Keadaan subjektivitas
pengarang yang memiliki sikap,
keyakinan, dan pandangan
hidup.
2. Psikologi pengarang (yang
mencakup proses kreatifnya),
psikologi pembaca, dan
penerapan prinsip-prinsip
psikologi dalam sastra.
3. Keadaan di lingkungan
pengarang seperti ekonomi,
politik, dan sosial.
4. Pandangan hidup suatu
bangsa dan berbagai karya seni
yang lainnya.

About dhahnd371

I'm an Introvert boy. I like Science and Science fiction, I also like photography, blogging, gadget and many others.

Posted on 1 Maret 2011, in cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: