Termokimia


LAPORAN AKHIR MODUL I

A. Judul : Termokimia

B. Tujuan :

  1. Setiap reaksi kimia selalu disertai dengan perubahan kalor
  2. Perubahan kalor dapat diukur atau dipelajari dengan percobaan yang sederhana

C. Dasar Teori

Penerapan hukum pertama termodinamika terhadap peristiwa kimia disebut termokimia, yang membahas tentang kalor yang menyertai reaksi kimia. Reaksi kimia termasuk proses isothermal, bila dilakukan di udara terbuka, maka kalor reaksi

qp = ΔH

Akibatnya, kalor dapat dihitung dari perubahan entalpi reaksi

q = ΔHreaksi = Hhasil reaksi – Hpereaksi

Supaya terdapat keseragaman harys ditetapkan keadaan standar, yaitu suhu 25oC dan tekanan 1 atm. Dengan demikian, perhitungan termokimia didasarkan pada keadaan standar, contoh:

AB + CD → AC + BD ΔHo = x kJ mol-1

ΔHo adalah lambing (notasi) perubahan entalpi reaksi pada keadaan itu.

Ditinjau dari jenis reaksi, terdapat empat jenis kalor, yaitu sebagai berikut.

  • Kalor pembentukan, ialah kalor yang menyertai pembentukan satu mol senyawa langsung dari unsur-unsurnya. Contohnya ammonia (NH3), harus dibuat dari gas nitrogen dan hidrogen, sehingga reaksinya :

½ N2 (g) + 1½ H2 (g) → NH3 (g) ΔHo = -46 kJ mol-1

Karena NH3 harus 1 mol maka koefisien reaksi nitrogen dan hidrogen boleh dituliskan sebagai pecahan. Energi yang dilepaskan sebesar 46 kJ disebut kalor pembentukan amonia (ΔHoNH3).

  • Kalor penguraian, (kebalikan dari kalor pembentukan), yaitu kalor yang menyertai penguraian 1 mol senyawa langsung menjadi unsur-unsurnya, contoh

HF(g) → ½ H2 (g) + ½ F2 (g) ΔH = +271 kJ mol-1

  • Kalor penetralan, ialah kalor yang menyertai pembentukan 1 mol air dari reaksi penetralan (asam dan basa), contoh :

HCl(aq) + NaOH(aq) → NaCl(aq) + H2O(l) ΔH = 121 kJ mol-1

  • Kalor reaksi, yakni kalor yang menyertai suatu reaksi dengan koefisien yang paling sederhana, contoh:

3H2(g) + N2(g) → 2NH3(g) ΔH = -92 kJ

Kalor yang menyertai suatu reaksi dapat ditentukan dengan percobaan laboratorium. Zat pereaksi yang terukur direaksikan di dalam kalorimeter, yaitu alat yang akan mengukur kalor yang dihasilkan atau diserap reaksi tersebut. Jika reaksi eksotermik, kalor yang dihasilkan akan menaikkan suhu air dalam kalorimeter. Besarnya kalor dapat dihitung dengan kenaikan suhu dan massa air di dalam alat tersebut. Sebaliknya, jika reaksi endoterm, maka suhu air akan turun sehingga dapat dihitung kalor yang diserap reaksi.

  • Syukri S. 1999. Kimia Dasar I, Bandung : ITB Press

Kalor adalah perpindahan energi termal. Kalor mengalir dari satu bagian ke bagian lain atau dari satu sistem ke bagian atau sistem lain karena adanya perbedaan temperatur. Selama pengalirannya kita tidak mengetahui proses keseluruhannya, misalnya keadaan akhirnya. Kalor belum diketahui sewaktu proses berlangsung. Kuantitas yang diketahui selama proses berlangsung ialah laju aliran Q yang merupakan fungsi waktu.

Hampir semua reaksi kimia menyerap atau melepaskan energi, umumnya dalam bentuk kalor. Kalor (heat) adalah perpindahan energi termal antara dua benda yang suhunya berbeda. Sering dikatakan “aliran kalor” dari benda panas ke bena dingin. Walaupun kalor itu sendiri mengandung arti perpindahan energi, biasanya disebut “kalor diserap” atau “kalor dibebaskan” ketika menggambarkan perubahan energi yang terjadi selama proses tersebut.

Untuk menganalisis perubahan energi yang berkaitan dengan reaksi kimia pertama-tama harus mendefinisikan sistem, atau bagian tertentu dari alam yang menjadi perhatian kita. Untuk kimiawan, sistem biasanya mencakup zat-zat yang terlibat dalam perubahan kiia dan fisika. Sebagai contoh dalam suatu percobaan penetralan asam-basa, sistem dapat berupa kalorimeter yang mengandung HCl yang didalamnya ditambahkan larutan NaOH. Sisa alam yang berada di luar sistem di sebut lingkungan (surrounding).

Jumlah perubahan kalor selama perubahan kimia dapat diukur dalam suatu kalorimeter (yang diukur adalah temperaturnya). Kalorimeter terdiri atas tabung yang dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak ada pertukaran atau perpindahan kalor dengan lingkungan disekitarnya, atau sekelilingnya. Walaupun ada itu dapat terjadi sekecil mungkin, sehingga dapat diabaikan.

Botol termus dapat digunakan sebagai kalorimeter sederhana, yang dihubungkan atau dibungkus busa pastik, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa ada perukaran antara kalorimeter dan isinya sehingga menera kalorimeter (yaitu permukaan kalor yang diserap kalorimeter), seteliti mungkin sesuai dengan pelajaran yang dipelajari.

Jumlah kalor yang diserap kalorimeter untuk menaikan suhunya sebesar 1 oC disebut tetapan kalorimeter. Salah satu cara yang digunakan untuk menentukan tetapan kalorimeter ialah dengan mencantumkan sejumlah “air dingin” dengan Massa mol, dan suhunya T dengan sejumlah “air panas” dengan massa mol, dan suhunya T di dalam kalorimeter yang ditentukan tetapannya pada temperatur air yang dicampurkan tidak lebih dari 30. Jika kalorimeter tidak menyerap kalor dari campuran ini. Kalor yang diberikan air panas harus sama dengan kalor yang diserap air dingin. Harga tetapan kalorimeter degan temperaturnya tidak langsung dapat diukur, yang dapat diukur adalah perubahan temperaturnya.

  • Team Teaching Kimia Dasar I. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I, Gorontalo : UNG

D. Alat dan Bahan

a. Alat

1. Kalorimeter

Berfungsi sebagai tempat untuk mengukur perubahan kalor selama reaksi kimia

2. Gelas Ukur

Berfungsi untuk mengukur volume larutan

3. Gelas Kimia

Berfungsi sebagai tempat untuk menampung larutan atau zat kimia

4. Termometer

Berfungsi untuk mengukur temperatur

5. Pipet tetes

Berfungsi untuk meneteskan larutan dalam jumlah kecil

6. Penangas

Berfungsi untuk memanaskan air

b. Bahan

1. Air

Sifat fisik :

  • Cairan tak berwarna
  • Titik didih 100 oC, titik leleh 0 oC

Sifat kimia:

  • Massa molar 18,0153 g/mol
  • Pelarut banyak jenis zat kimia
  • Tidak mudah terbakar

2. Etanol

Sifat fisik :

  • Cairan tak berwarana
  • Titik didih -114,3 oC, titik leleh 78,4 oC

Sifat kimia:

  • Massa molar 46,07 g/mol
  • Larut dalam air
  • Mudah terbakar dan menguap

3. HCl

Sifat fisik :

  • Cairan tak berwarna sampai dengan kuning pucat
  • Titik leleh -27,32 oC, titik didih 48-110 oC

Sifat kimia:

  • Massa molar 36,46 g/mol
  • Larut dalam air
  • Korosif

4. NaOH

Sifat fisik :

  • Zat padat atau larutan putih
  • Titik leleh 318 oC, titik didih 1390 oC

Sifat kimia:

  • Massa molar 39,9971 g/mol
  • Larut dalam air
  • Tidak mudah terbakar

E. Prosedur Kerja

1. Penentuan Tetapan Kalorimeter

2. Penentuan Kalor Pelarutan Etanol Dalam Air

3. Penentuan Kalor Penetralan HCl dan NaOH

F. Hasil Pengamatan

1. Penentuan tetapan kalorimeter

T air dingin = 30 oC T air panas = 41 oC

V air panas = 20 ml V air dingin = 20 ml

T campuran

t

T (oC)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

35 oC

35 oC

35 oC

34 oC

34 oC

34 oC

34 oC

34 oC

34 oC

33 oC

2. Penentuan Kalor Pelarutan Etanol Dalam Air

a) Untuk air 18 ml dan etanol 29 ml

T etanol = 31 oC T air = 32 oC

T air T Campuran

t

T (oC)

t

T (oC)

1/2

1

1 1/2

2

32 oC

31 oC

31 oC

31 oC

½

1

1 ½

2

2 ½

3

3 ½

4

33 oC

34 oC

34 oC

34 oC

34 oC

35oC

35oC

35oC

b) Untuk air 27 ml dan etanol 19 ml

T etanol = 31 oC T air = 32 oC

T air T Campuran

t

T (oC)

t

T (oC)

1/2

1

1 1/2

2

31 oC

31 oC

31 oC

31 oC

½

1

1 ½

2

2 ½

3

3 ½

4

35 oC

35 oC

35 oC

35 oC

35 oC

35oC

35oC

35oC

c) Untuk air 36 ml dan etanol 14,5 ml

T etanol = 30 oC T air = 31 oC

T air T Campuran

t

T (oC)

t

T (oC)

1/2

1

1 1/2

2

31 oC

31 oC

31 oC

31 oC

½

1

1 ½

2

2 ½

3

3 ½

4

35 oC

35 oC

35 oC

35 oC

35 oC

35oC

35oC

35oC

3. Penentuan Kalor Penetralan HCl dan NaOH

T HCl = 31 oC T NaOH = 31 oC

t

T (oC)

½

1

1 ½

2

2 ½

3

3 ½

4

4 ½

5

40

40

40

40

40

39

39

39

39

39

G. Perhitungan dan Pembahasan

a. Perhitungan

1. Penentuan tetapan kalorimeter

Dik : Va : Volume air dingin : 20 ml

Va : Volume air panas : 20 ml

ρ air : 1 gr/ml

S air : J/gr K

Ta1 : 30 oC + 273 = 303 K

Ta2 : 41 oC + 273 = 314 K

Tabel suhu campuran air

t (menit)

T (K)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

308

308

308

307

307

307

307

307

307

306

Dit : Tetapan kalorimeter (K)…..?

Penyelesaian :

  • Menghitung massa air dingin

Ma1 = Va1

= 20 gr

  • Menghitung suhu campuran

Tcamp = ΣT/n

= 308+308+308+307+307+307+307+307+307+30610 K

= 307210K

= 307,2 K

  • Menghitung perubahan suhu air dingin

ΔT1 = Tcamp – Ta1

= 307,2 K – 303 K = 4,2 K

  • Menghitung perubahan suhu air panas

ΔT1 = Ta2 – Tcamp

= 314 K – 307,2 K = 6,8 K

  • Menghitung kalor yang diserap air dingin

q1 = Ma1 x Sair x ΔT1

= 20 gr x 4,2 J/g·K x 4,2 K

= 352,8 Joule

  • Menghitung kalor yang dilepas air panas

q1 = Ma2 x Sair x ΔT2

= 20 gr x 4,2 J/g·K x 6,8 K

= 571,2 Joule

  • Menghitung kalor yang diterima kalorimeter

q3 = q2 – q1

= 571,2 J – 352,8 J

= 218,4 J

  • Menghitung tetapan kalorimeter

K = q3/ΔT2 = 218,4 J4,2 K = 52 J/K

  • Grafik hubungana antara temperatur dengan selang waktu

2. Penentuan kalor pelarutan etanol dalam air

a. Untuk campuran air 18 ml dengan etanol 29 ml

Dik: ρair = 1 gr/ml

ρetanol = 0,79 gr/ml

S air = 4,2 J/gr · K

S etanol = 1,92 J/gr · K

T air = 304,25 K

T etanol = 304 K

Dit: Entalpi pelarutan (ΔH)?

Peny : – Menghitung massa air – Menghitung massa etanol

Ma = Va x ρair M etanol = Vetanol xρetanol

= 18 ml x 1 gr/ml = 29 ml x 0,79 gr/ml

= 18 gr = 22,91 gr

  • Menghitung suhu campuran

Tcamp = ΣT/n = 2458/8 = 307,25 K

ΔT1 = T camp – T air = 307,25 – 304,25 = 3 K

ΔT2 = T camp – T etanol = 307,25 – 304 = 3,25 K

  • Kalor yang diserap air (qa) – Kalor yang diserap etanol (qe)

qa = Ma x S x ΔT1 qe = Metanol x S x ΔT2

= 18 x 4,2 x 3 = 226,8 J = 22 x 1,92 x 3,25

= 226,8 J = 142,95 J

  • Kalor yang diserap kalorimeter (qk)

qK = K x ΔT2

= 52 x 32,5

= 1690 J

  • Kalor yang dihasilkan pada larutan

qL = qa + qe + qK = 226,8 + 142,96 + 1690 = 2059,76 J

  • entalpi pelarutan (ΔH)

ΔH1 = q1/29/58 = 2059,76 / 0,5 = 4119,52 J

  • Grafik hubungan antara temperatur dengan selang waktu

T (K)

t (Menit)

b. Untuk campuran air 27 ml dengan etanol 19 ml

Dik: ρair = 1 gr/ml

ρetanol = 0,79 gr/ml

S air = 4,2 J/gr · K

S etanol = 1,92 J/gr · K

T air = 304 K

T etanol = 304 K

Dit: Entalpi pelarutan (ΔH)?

Peny : – Menghitung massa air – Menghitung massa etanol

Ma = Va x ρair M etanol = Vetanol xρetanol

= 27 ml x 1 gr/ml = 19 ml x 0,79 gr/ml

= 27 gr = 15,01 gr

  • Menghitung suhu campuran

Tcamp = ΣT/n = 2464/8 = 308 K

ΔT1 = T camp – T air = 308 – 304 = 3 K

ΔT2 = T camp – T etanol = 308 – 304 = 3 K

  • Kalor yang diserap air (qa) – Kalor yang diserap etanol (qe)

qa = Ma x S x ΔT1 qe = Metanol x S x ΔT2

= 27 x 4,2 x 4 = 15,01 x 1,92 x 4

= 453,6 J = 115,27 J

  • Kalor yang diserap kalorimeter (qk)

qK = K x ΔT2

= 52 x 4

= 208 J

  • Kalor yang dihasilkan pada larutan

qL = qa + qe + qK = 453,6 + 115,27 + 208 = 776,87 J

  • entalpi pelarutan (ΔH)

ΔH1 = q1/29/58 = 776,87 / 0,5 = 1553,74 J

  • Grafik hubungan antara temperatur dengan selang waktu

T (K)

t (Menit)

c. Untuk campuran air 36 ml dengan etanol 14,5 ml

Dik: ρair = 1 gr/ml

ρetanol = 0,79 gr/ml

S air = 4,2 J/gr · K

S etanol = 1,92 J/gr · K

T air = 304 K

T etanol = 303 K

Dit: Entalpi pelarutan (ΔH)?

Peny : – Menghitung massa air – Menghitung massa etanol

Ma = Va x ρair M etanol = Vetanol xρetanol

= 36 ml x 1 gr/ml = 14,5 ml x 0,79 gr/ml

= 36 gr = 11,495 gr

  • Menghitung suhu campuran

Tcamp = ΣT/n = 2464/8 = 308 K

ΔT1 = T camp – T air = 308 – 304 = 4 K

ΔT2 = T camp – T etanol = 308 – 303 = 5 K

  • Kalor yang diserap air (qa) – Kalor yang diserap etanol (qe)

qa = Ma x S x ΔT1 qe = Metanol x S x ΔT2

= 36 x 4,2 x 4 = 226,8 J = 11,495 x 1,92 x 5

= 604,8 J = 109,968 J

  • Kalor yang diserap kalorimeter (qk)

qK = K x ΔT2

= 52 x 5

= 260 J

  • Kalor yang dihasilkan pada larutan

qL = qa + qe + qK = 604,8 + 109,968 + 260 = 974,76 J

  • entalpi pelarutan (ΔH)

ΔH1 = q1/29/58 = 974,76 / 0,5 = 1949,536 J

  • Grafik hubungan antara temperatur dengan selang waktu

T (K)

t (menit)

mencari perbandingan mol air dan mol etanol dalam setiap campuran

a. V air = 18 ml , V etanol = 29 ml

  • Perubahan suhu mula-mula (ΔTm1)

ΔTm1 = Tair + T etanol = 304,25 + 304 = 304,125 K

2 2

  • Perubahan suhu akhir (ΔTa1)

ΔTa1 = Tcamp – ΔTm1 = 307,25 – 304,125 = 3,125 K

  • Mol air = gr airmr air = 1818 = 1 mol

  • Mol etanol = gr etanolmr etanol = 22,9146 = 0,4 mol

  • Perbandingan mol air dengan mol etanol

mol air : mol etanol = 1 : 0,4

b. V air = 27 ml , V etanol = 19 ml

  • Perubahan suhu mula-mula (ΔTm1)

ΔTm1 = Tair + T etanol = 304 + 304 = 304 K

2 2

  • Perubahan suhu akhir (ΔTa1)

ΔTa1 = Tcamp – ΔTm1 = 308 – 304 = 4 K

  • Mol air = gr airmr air = 2718 = 1,5 mol

  • Mol etanol = gr etanolmr etanol = 15,0146 = 0,32 mol

  • Perbandingan mol air dengan mol etanol

mol air : mol etanol = 1,5 : 0,32

c. V air = 36 ml , V etanol = 14,5 ml

  • Perubahan suhu mula-mula (ΔTm1)

ΔTm1 = Tair + T etanol = 304 + 303 = 303,5 K

2 2

  • Perubahan suhu akhir (ΔTa1)

ΔTa1 = Tcamp – ΔTm1 = 308 – 303,5 = 4,5 K

  • Mol air = gr airmr air = 3618 = 2 mol

  • Mol etanol = gr etanolmr etanol = 11,45546 = 0,24 mol

  • Perbandingan mol air dengan mol etanol

mol air : mol etanol = 2 : 0,24

3. Penentuan kalor penetralan HCl dan NaOH

Dik : ρL : 1,03 gr/ml T HCl = 31 oC + 273 = 204 K

SL : 3,96 J/gr K T NaOH = 31 oC + 273 = 204 K

Dit : Kalor penetralan….?

Peny :

  • Suhu mula-mula (Tm)

Tm : T HCl + T NaOH = 304+304/2 = 304 K

2

  • Suhu akhir (Ta)

ΣT/n = 3125/10 = 312,5

  • Perubahan suhu akhir (ΔTa)

ΔTa = Ta – Tm

= 312,5 -304 = 8,5 K

VL = V HCl + V NaOH

= 20 + 20 = 40 ml

  • Massa larutan = VL x ρL

= 40 x 1,03 = 4,12 gr

  • Kalor yang diserap (q1)

q1 = gr larutan x SL x ΔTa

= 41,2 x 3,96 x 8,5 = 1386,79 J

  • Kalor yang diserap kalorimeter (q2)

q2 = K x q1

= 52 x 1386,79 = 72113.08 J

  • Kalor yang dihasilkan reaksi (q3)

q3 = q1 + q2

= 1386,79 J + 72113.08 J = 73499.87 J

  • Kalor penetralan = q3 = 73499.87 J /0,05 mol = 13558,22 J/mol

mol larutan

mol larutan = massa larutan mr Na0H+mr HCl = 4,12/(40 + 36) = 4,12/76 = 0,05 mol

b. Pembahasan

1. Penentuan tetapan kalorimeter

Percobaan pertama bertujuan untuk menentukan tetapan kalorimeter dengan menggunakan air panas dan air dingin. Air panas dan air dingin dengan volume yang sama dicampurkan dalam kalorimeter diaduk, dan diamati temperaturnya. Berdasarkan catatan suhu yang didapatkan pada percobaan, suhu campuran air dingin dan air panas berkisar antara 33 oC – 35 oC.

Pada percobaan penentuan tetapan kalorimeter ini di dapatkan peningkatan suhu saat penambahan bahan lain yakni air panas. Sebelum ditambah dengan air panas, suhu air dalam kalorimeter sebesar 30 oC. Dan ketika ditambahkan air panas, temperatur air naik menjadi 35 oC. Pada percobaan ini terjadi proses secara eksotermik karena sistem melepaskan kalor. Hal tersebut dapat dilihat pada data hasil pengamatan yang menunjukkan penurunan suhu sistem (Campuran) yang mula-mula sebesar 35 oC turun perlahan-lahan menjadi 33 oC.

Jika kalorimeter tidak menyerap kalor dari campuran air, maka kalor yang diberikan oleh air panas sama dengan kalor yang diserap oleh air dingin. Tetapi karena kalorimeter juga ikut menyerap kalor, maka kalor yang diserap oleh kalorimeter adalah selisih kalor yang diberikan oleh air panas dikurangi dengan kalor yang diserap oleh air dingin (q3 = q2 – q1). Harga tetapan kalorimeter diperoleh dengan cara membagi jumlah kalor yang diserap oleh kalorimeter (q3) dengan penghangatan perubahan suhu pada kalorimeter.

C = q3∆T

C = tetapan kalorimeter (J/K)

q = kalor yang diserap (J)

ΔT = perubahan suhu (K)

Berdasarkan perhitungan diperoleh tetapan kalorimeter sebesar 52 J/K

2. Penentuan Kalor Pelarutan Etanol Dalam Air

Kalor atau panas pelarutan dari etanol dapat diperoleh dengan cara mencampurkan zat tersebut ke dalam kalorimeter yang berisi air dingin, sehingga akan bereaksi dan akan timbul suatu reaksi yang disertai dengan perubahan suhu, dan pelepasan sejumlah kalor. Perubahan kalornya tergantung ada konsentrasi awal dan akhir larutan yang terbentuk.

Dalam percobaan ini, dihasilkan panas pelarutan,sehingga temperatur campuran air dengan etanol meningkat. Adapun peningkatan suhu campuran terjadi karena adanya kalor pelarutan yaitu kalor yang menyertai pelarutan etanol dalam air.

3. Penentuan Kalor Penetralan HCl dan NaOH

Inti dari percobaan ini adalah menentukan kalor pada reaksi HCl dan NaOH. Mula-mula larutan HCl dimasukkan kedalam kalorimeter dan dicatat temperaturnya, kemudian larutan NaOH yang temperaturnya sama dengan temperatur HCl tadi dicampurkan dengan HCl. Setelah diamati terjadi perubahan suhu HCl sebelum dan sesudah dicampurkan dengan NaOH.

Pada peercobaan terjadi reaksi antara asam klorida (HCl) dan basa natrium hidroksida (NaOH) yang menghasilkan garam dengan air. Reaksi tersebut dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :

HCl(aq) + NaOH(aq) → NaCl(aq) + H2O(l)

Yang bertindak sebagai sistem dalam reaksi ini adalah HCl dan NaOH dan yang bertindak sebagai lingkungan adalah air dan, sebagai medium pelarut kedua zat tersebut. Pada reaksi tersebut suhu larutan meningkat, hal ini terjadi karena pada saat reaksi terjadi pelepasan kalor. Kalor yang dilepaskan oleh sistem reaksi (NaOH dan HCl) diserap oleh lingkungan pelarut dan material lain (Kalorimeter). Akibatnya suhu lingkungan naik yang ditunjukkan oleh kenaikan suhu larutan. Jadi dalam percobaan tersebut yang diukur bukanlah suhu sistem, melainkan suhu lingkungan tempat terjadinya reaksi. Sedangkan sistem pada reaksi tersebut suhunya turun dan mencapai keadaan stabil membentuk NaCl dan H2O.

H. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal, yakni :

  • Pada masing-masing percobaan, campuran antara kedua larutan selalu mengalami perubahan temperatur.

  • Perubahan temperatur pada penentuan kalor penetralan HCl dan NaOH relatif lebih besar dibandingkan perubahan kalor pada percobaan lain.

  • Setiap reaksi kimia selalu disertai dengan perubahan kalor.

  • Salah satu cara untuk mengukur perubahan kalor adalah dengan melakukan percobaan menggunakan kalorimeter.

I. Kemungkinan kesalahan

  • Kurang terampilnya praktikan dalam melakukan percobaan

  • Kurang terampilnya praktikan dalam membaca suhu pada termometer

Daftar Pustaka

Anonim. 2009. Termokimia, http://akuadalahorangsukses.blogspot.com/../archive.html

Anonim. 2009. Termokimia, http://aatuhalu.wordpress.com/../Termokimia.htm

Hiskia, A dan Tumapalu. 1991. Stoikiometri Energi Kimia, Bandung : ITB Press

Syukri S. 1999. Kimia Dasar I, Bandung : ITB Press

Team teaching kimia dasar I, Penuntun praktikum kimia dasar I, 2011 : Gorontalo

About these ads

Tentang dhahnd371

I'm an Introvert boy. I like Science and Science fiction, I also like photography, blogging, gadget and many others.

Posted on 15 Desember 2011, in Laporan and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Membantu sekali dalam menyelesaikan tugas, trima kasih :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: