Manusia Sebagai Subjek sekaligus objek pendidikan


Sebagai subjek yang mempunyai potensi-potensi lahir batin, manusia melakukan prakarsa, rasa dan karsa, bahkan juga karya dan prestasi karena dorongan-dorongan yang amat kompleks. Dorongan-dorongan tersebut dapat terjadi karena faktor-faktor objektif (kebutuhan), dapat pula karena faktor-faktor subjektif (cinta, pengabdian). Bahkan dapat juga karena alasa-alasan moral (tanggung jawab), kewajiban, harga diri dan nilai-nilai. Dengan demikian, memahami manusia haruslah dalam persoalan yang berkaitan erat dengan dunia manusia, yakni kebudayaan manusia secara keseluruhan. Apakah yang dimaksud dengan dunia manusia di atas? Dalam rangka itulah kita perlu mengadakan reorentasi atas demensi-demensi ruang lingkup kesadaran manusia. Hal ini akan menjadi lebih jelas dalam uraian antropologia metafisika tentang hakikat manusia. Ilmu yang mempelajari hakikat manusia disebut antropologia metafisika, yang berkesimpulan bahwa hakikat manusia integritas antara kesadaran-kesadaran: Manusia sebagai makhluk individu Kesadaran manusia akan diri sendiri merupakan perwujudan individualitas manusia. Kesadaran diri sendiri yang dimulai dengan kesadaran adanya pribadi di antara segala realitas adalah pangkal segala kesadaran terhadap segala sesuatu. Dengan bahasa filsafat dinyatakan self-existensi adalah sumber pengertian manusia akan segala sesuatu. Self-existensi ini mencakup pengertian yang amat luas, terutama meliputi: kesadaran adanya diri di antara semua realita, self-respect, self-narcisme, egoisme, martabat kepribadian, perbedaan dan persamaan dengan pribadi lain, khususnya kesadaran akan potensi-potensi pribadi yang menjadi dasar bagi self-realisasi. Makin manusia sadar akan diri sendiri sesungguhnya makin sadar akan kesemestaan, karena posisi manusia adalah bagian yang tak tepisahkan dari semesta. Antar hubungan dan antar aksi pribadi itu pula yang melahirkan konsekuensi-konsekuensi seperti hak (asasi) dan kewajiban, norma-norma moral, nilai-nilai sosial, bahkan juga nilai-nilai supranatural berfungsi untuk manusia. Dengan demikian kesadaran manusia sebagai pribadi merupakan kesadaran yang paling dalam, sember kesadaran subjek yang melahirkan kesadaran lain. Manusia sebagai makhluk sosial, dan Self-existensi, kesadaran diri sendiri membuka kesadaran atas segala sesuatu sebagai realita di samping realita subjek. Meskipun diri kita sebagai pribadi adalah subjek yang menyadari, namun diri kita bukanlah pusat dari segala realita. Sebab, kedudukan setiap pribadi mempunyai martabat kemanusiaan (human dignity) yang sederajat, maka wajarlah bahwa kita menghormati setiap pribadi. Untuk dihormati adalah hak kita dan setiap orang. Sebaliknya untuk menghormati setiap pribadi adalah kewajiban kita dan setiap pribadi lain. Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial (sosial being) terutama nampak dalam kenyataan bahwa tak pernah ada manusia yang mampu hidup tanpa bantuan orang lain. Orang lain dimaksud paling sedikit ialah orang tuanya, keluarga sendiri. Realita ini menunjukkan bahwa manusia hidup dalam interdependensi, antar hubungan dan anteraksi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga satu kesatuan hidup, warga masyarakat, warga negara dan sebaginya. Manusia tidak hanya interdependensi dalam hal materiil-ekonomis saja, melainkan lebih mengandung makna psikologis, yakni dorongan cinta dan dicintai, di mana kebahagiaan terutama terletak dalam kepuasan jiwa ini. Jadi esensi manusia sebagai makhluk sosial ialah adanya kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya dalam kehidupan bersama dan bagaimana tanggung jawab dan kewajibannya dalam kebersamaan itu. Adanya kesadaran interdependensi dan saling membutuhkan serta dorongan-dorongan untuk mengabdi sesamanya adalah asas sosialitas itu. Manusia sebagai makhluk susila (moral being) Pribadi manusia yang hidup bersama itu melakukan hubungan dan interaksi baik langung maupun tidak. Di dalam proses interaksi itu tiap pribadi membawa identitas dan kepribadian masing-maising. Oleh karena itu keadaan yang heterogen (beraneka ragam) akan menimbulkan konsekuensi tindakan masing-masing pribadi. Keadaan interdependensi (saling bergantung satu sama lain), kebutuhan lahir batin yang tiada batasnya akan berlangsung terus menerus secara kontinue. Dan demi ketertiban, kesejahteraan manusia, maka di dalam masyarakat ada nilai-nilai, norma-norma. Kesadaran susila (sense of morality) tak dapat dipisahkan dengan realitas sosial, sebab, justru adanya nilai-nilai, efektivitas nilai-nilai, berfungsinya nilai-nilai hanyalah di dalam kehidupan sosial. Artinya kesusilaan atau moralitas adalah fungsi sosial. Tiap hubungan sosial mengandung hubungan moral. Peran Ketiga Hakikat Tersebut Dalam Pendidikan Manusia adalah subjek sekaligus juga sebagai objek pendidikan. Manusia dewasa yang berkebudayaan adalah subjek pendidikan dalam arti yang bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan. Mereka berkewajiban secara moral atas perkembangan pribadi anak-anak mereka, generasi penerus mereka. Manusia dewasa yang berkebudayaan, trutama yang berprofesi keguruan (pendidikan) bertanggung jawab formal untuk melaksanakan misi pendidikan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai yang dikehendaki masyarakat bangsa itu. Perwujudan kepribadian seseorang nampak dalam keseluruhan pribadi manusia dalam interaksinya dengan lingkungan hidupnya. Proses pendidikan yang berlangsung secara pluralitas (subjek dengan lingkungan alamiah, sosial dan kultural) amat ditentukan oleh aspek manusianya. Sebab kedudukan manusia sebagai subjek di dalam masyarakat, bahkan dalam alam semesta, memberikan konsekuensi tanggung jawab yang besar bagi manusia. Manusia mengemban amanat untuk membina masyarakat, memelihara alam lingkungan hidup bersama. Bahkan terutama bertanggung jawab atas martabat kemanusiaannya (human dignity). Jadi manusia sebagai makhluk individu berperan aktif bahkan wajib dalam menyelenggarakan pendidikan baik secara formal atau non formal. Sebagai makhluk sosial dia sudah semestinya memiliki rasa kebersamaan dan kerjasama dalam hal memajukan pendidikan untuk generasi mereka, baik dalam lingkup kependidikan ataupun dalam lingkup masyarakat. Dari interaksi dan peran tanggung jawab itu pula manusia sudah semestinya menimbulkan moralitas agar kebersamaan itu langgeng dalam melestarikan jati dirinya sebagai makhluk yang beradab. Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2122336-hakikat-manusia/#ixzz1gabqBF00

About dhahnd371

I'm an Introvert boy. I like Science and Science fiction, I also like photography, blogging, gadget and many others.

Posted on 15 Desember 2011, in Pengantar pendidikan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Terima kasih membantu saya menjawab soal uts

  2. Istilah mengenal diri mengandung arti bahwa diri kita merupakan gabungan dari dua diri, yaitu diri yang mengenal dan diri yang dikenal. Diri yang mengenal adalah diriku sebagai subjek sedangkan diriku yang aku kenal adalah diriku sebagai objek. Antara diri subjek dan diri objek bukanlah dua hal yang terpisah, tetapi keduanya merupakan satu kesatuan yang memungkinkan manusia mempunyai kemampuan untuk mengenal dan sadar akan siapa dirinya yang sebenarnya. Binatang tidak. Selanjutnya click di sini http://spensaguti.wordpress.com/category/pencerahan-jiwa/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: